Postingan

Tentang Live Life To The Fullest

Gambar
Beberapa hari yang lalu saya menonton Disney Soul bersama adik saya. Dan setelahnya, bahkan hingga hari, ini saya masih memikirkannya. Saya selalu iri pada orang-orang seperti Joe Gardner yang benar-benar tau apa yang ia inginkan dalam hidup. Kadang saya merasa saya tidak pernah benar-benar tau apa yang saya inginkan. Saya tidak pernah benar-benar melakukan suatu hal dari hati. Saya menyukai hidup saya, mensyukuri setiap hari yang saya lalui, namun tidak ada hal-hal istimewa seperti bagaimana Joe mencintai musik. Saking cintanya pada musik, Joe rela mengorbankan kestabilan hidup hanya demi bisa menjadi pemusik profesional. Sejak kecil Joe tau, ia dilahirkan untuk bermain musik. Sebenarnya di dunia nyata pun banyak orang seperti Joe yang rela meninggalkan kestabilan hidup demi bermain musik, atau hal-hal lainnya. Mereka tau apa yang sangat ingin mereka lakukan dalam hidupnya. Mereka hidup tidak hanya untuk bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi memuaskan panggilan hati dan melakukan hal...

Tentang Hadir Di Sini, Saat Ini

Gambar
Jalanan Surabaya yang ruwet, kaya pikiran ~~~ Seberapa sering kita mengkhawatirkan apa yang belum terjadi? Seberapa sering kita menyesali apa yang sudah berlalu sampai kita lupa untuk hadir di sini, saat ini? Belakangan ini saya sering sekali merasa seperti itu. Sibuk mengkhawatirkan masa depan dan menyesali masa lalu hingga melupakan bahwa sejatinya hidup adalah apa yang berjalan saat ini. Saya tau, percuma saya mengkhawatirkan apa yang belum terjadi tapi masa kini berantakan karena saya fokus pada apa yang 'harus' atau 'harusnya' saya capai. Pada akhirnya lingkaran setan kekhawatiran ini tidak akan pernah berhenti. Rasa khawatir ini perlahan menggerogoti saya. Membuat saya merasa lelah tidak berkesudahan, susah fokus, dan malas melakukan hal-hal yang sebelumnya saya minati. Saya tau, saya tidak bisa terus begini, namun berhenti merasa khawatir bukanlah hal yang mudah. Tadi malam saya menyimak IG live Mas Adjie Santosoputra dan ada beberapa kata-kata Mas Adjie yang mem...

Tentang Perjalanan

Saya bukan orang yang menyukai perjalanan. Saya tidak suka packing. Tidak suka perasaan, "Ada yang ketinggalan tidak ya?" saat saya sudah yakin kalau semua barang bawaan sudah siap angkut. Saya tidak suka rasa lelah mengangkat banyak tas dalam perjalanan menyusuri peron stasiun atau gate bandara. Saya bukan orang yang bisa mengepak sedikit barang tiap akan bepergian, karena itu kegiatan packing tidak pernah saya nikmati. Saya cenderung baru packing di detik-detik terakhir karena malas, namun panik kemudian. Karena itu saya akan membawa banyak barang yang saya kira akan saya perlukan. Padahal biasanya juga barang-barang itu tidak sempat saya gunakan. Barang paling tidak pernah saya gunakan namun selalu saya bawa ke mana-mana walau berat adalah laptop yang hampir seberat 2 kg ini. Berdasar pengalaman jauh dari rumah selama sembilan tahun dan sering kali menempuh perjalanan berjam-jam untuk pulang, saya tau, kalau laptop yang saya bawa tidak akan saya gunakan untuk menyicil peke...

Tentang Perasaan

Gambar
The past is beautiful because one never realizes an emotion at the time. It expands later, & thus we don’t have complete emotions about the present, only about the past. - Virginia Woolf Saya sedang belajar untuk kembali membaca buku. Alih-alih sekedar membaca novel seperti yang kadang saya lakukan di kala weekend di rumah, saya belajar untuk membaca buku non-fiksi berbahasa Inggris. Kenapa harus berbahasa Inggris? Hanya supaya saya bisa sekalian belajar bahasa Inggris dalam prosesnya. Terinspirasi dari Felicia Putri Tjisaka, saya berencana konsisten #1day1chapter dan merangkumnya. Ntah pada akhirnya rangkuman itu akan saya masukkan dalam instastory atau sekedar saya simpan untuk diri saya sendiri. Dan buku yang saat ini saya baca adalah Educated yang merupakan memoir dari Tara Westover. Singkat cerita, buku ini menceritakan tentang Tara Westover yang berhasil masuk perguruan tinggi hingga mendapat gelar ph.D padahal karena satu dan dua alasan, ia tidak pernah mengenyam p...

Review Unrequited Love

Gambar
Sejujurnya saya bukan tipe orang yang gemar membuat review mengenai apa yang saya tonton, apa yang saya baca, apalagi apa yang saya makan. Karena ingatan saya seperti ikan dory, mudah sekali terhapus dan lupa. Lalu apa yang mau direview kalau saya sudah lupa jalan ceritanya? Namun biasanya bila satu buku/film/series sangat bagus, walau sudah lupa jalan ceritanya, saya akan tetap mengingat perasaan yang saya rasakan saat menikmatinya. Termasuk ke drama Unrequited Love yang akan saya review ini. Jadi walau sudah enam minggu berlalu dan saya sudah lupa nama pemeran-pemerannya, malam ini ditemani playlist Mandopop Hits di Spotify, sebotol aqua, dan setoples makaroni pedas, saya akan membagi review saya tentang drama yang sukses membuat saya binge watching 24 episode hanya dalam 4 hari saja. FYI, saya bukan tipe orang yg betah binge watching. Terakhir binge watching nonton drama itu Januari 2019 lalu, nonton Another Oh Ha Young. Biasanya saya tipe orang yang akan menonton 1 episode d...

Tentang Penumpukan Emosi

Belakangan ini emosi saya tidak stabil. Saya seringkali merasa lelah luarbiasa, selalu marah, mudah bersedih, dan mengalami perubahan emosi yang cepat sekali berubah. Kadang saya menemukan diri saya menangis saat mengendarai sepeda motor, mandi, atau sholat. Namun begitu saya menyadari kalau saya sedang menangis, tangisan itu segera berhenti dan saya kembali merasa seperti tidak ada apa-apa. Badan pun rasanya mudah sekali lelah. Karena itu setiap hari sepulang kantor, saya hanya mandi, makan, sholat, dan tidak melakukan apa-apa lagi selain scrolling instagram, menonton youtube, serta membaca novel di ipusnas. Saya hampir tidak pernah begadang, namun selalu terbangun di tengah malam. Pagi hari pun saat bangun saya merasa kelelahan luar biasa. Setelah hal ini berlangsung cukup lama, baru lah saya menyadari, terlalu banyak emosi terpendam di dalam diri saya. Sedari kecil saya diajarkan untuk tidak menunjukkan emosi kepada orang lain. Kita boleh sedih, kita boleh lelah, tapi simpan pera...

Tidak Ada yang Harus Di Dunia Ini

Gambar
Beberapa bulan belakangan menyadari, kalau saya mungkin terlalu banyak mau. Seperti manusia lain, waktu saya hanya 24 jam dan tangan saya Alhamdulillah masih ada dua, tapi saya seringkali iri melihat pencapaian orang lain dan membuat saya kesal sendiri, kenapa saya tidak bisa seperti itu? Sampai beberapa bulan sebelum tahun baru, saya sudah membuat resolusi 2020 dengan ambisius. Saya ingin kesana ke situ, ingin ini ingin itu, ingin belajar ini belajar itu. Utamanya, saya ingin mengembangkan bisnis rajutan saya ke skala yang lebih luas. Saya ingin menjadi wanita karir + entrepreneur sekaligus. Saya tidak peduli saya mampu atau tidak. Saya harus mampu. Namun malam tahun baru mengubah saya 180 derajat. Di malam tahun baru saya membaca majalah kesayangan saya, In The Moment . Dan artikel tulisan Lottie Storey merubah cara berpikir saya. Di artikel berjudul 'What Do You Want To Be When You Grow Up?', ia mengutip tulisan Elizabeth Gillbert yang menjabarkan perbedaan ho...