Tidak Ada yang Harus Di Dunia Ini



Beberapa bulan belakangan menyadari, kalau saya mungkin terlalu banyak mau. Seperti manusia lain, waktu saya hanya 24 jam dan tangan saya Alhamdulillah masih ada dua, tapi saya seringkali iri melihat pencapaian orang lain dan membuat saya kesal sendiri, kenapa saya tidak bisa seperti itu?

Sampai beberapa bulan sebelum tahun baru, saya sudah membuat resolusi 2020 dengan ambisius. Saya ingin kesana ke situ, ingin ini ingin itu, ingin belajar ini belajar itu. Utamanya, saya ingin mengembangkan bisnis rajutan saya ke skala yang lebih luas. Saya ingin menjadi wanita karir + entrepreneur sekaligus. Saya tidak peduli saya mampu atau tidak. Saya harus mampu.

Namun malam tahun baru mengubah saya 180 derajat. Di malam tahun baru saya membaca majalah kesayangan saya, In The Moment. Dan artikel tulisan Lottie Storey merubah cara berpikir saya. Di artikel berjudul 'What Do You Want To Be When You Grow Up?', ia mengutip tulisan Elizabeth Gillbert yang menjabarkan perbedaan hobby, job, career, dan vocation. Setelah membaca artikel itu saya berpikir lama sekali, apa saya yakin akan mengubah merajut yang selama ini adalah hobi saya menjadi career? Membayangkan tidak hanya dikejar target kerjaan, namun juga deadline merajut, membuat saya ragu. Dari 24 jam sehari, saya bekerja setidaknya 9 jam di kantor, dan saya tipe orang yang harus tidur 8 jam, kalau tidak saya bisa cranky seharian. Di sisa waktu hanya 7 jam sehari itu, relakah saya harus membagi waktu mandi, makan, perjalanan, rebahan, dan refreshing untuk ber stress stress merajut? Nampaknya tidak. Saya lebih suka merajut dengan bahagia sebagai hobi daripada merajut dengan stress karena dikejar target. Dan sebenarnya, apa yang saya kejar? Materi? Dipikir-pikir, stressnya tidak sebanding dengan hasilnya. Dan Alhamdulillah, saya masih punya pekerjaan utama. Jadi malam itu, saya menyadari, saya lebih suka merajut tetap menjadi hobi. Saya lebih suka bahagia dengan hobi-hobi saya karena saya merasa, setelah bekerja 28 hari sebulan, saya berhak mengistirahatkan otak saya. Dari sana juga saya menyadari, bahwa saya tidak harus menjadi seperti teman-teman saya yang bisa merajut 4-5 jam sehari. Saya tidak harus memiliki FO baru setiap minggunya. Tapi itu juga berarti saya tidak boleh iri dengan pencapaian mereka, karena saya pun punya pencapaian tersendiri.

Sama halnya dengan merajut, saya pun mempraktekkan tidak-harus itu ke aspek lainnya dalam hidup saya. Demi menjaga kewarasan jiwa, saya memilih menjadi tidak ambisius. Saya mengatur ulang prioritas saya. Mengatur ulang hobi-hobi saya. Karena sungguh lah, bila bicara hobi, dulu saya rupanya sangat ambisius. Saya iri melihat teman-teman perajut yang bisa melahirkan karya baru setiap minggunya dan orderannya banyak. Saya iri melihat teman-teman bookstagram yang hampir setiap hari membuat review buku baru dan saking aktifnya menjadi product rep dari beberapa brand merchandise international. Saya iri pada mereka yang berkata begadang semalaman demi membaca buku atau merajut, karena saya kalau sampai begadang, ujung-ujungnya di kantor akan meracau tiada henti sampai Pak Bos pernah berseloroh ingin membelikan saya obat penenang, saking berisiknya. Saya tau semua rasa iri ini tidak sehat karena membuat saya tidak mensyukuri hal yang memakan hampir separuh hidup saya saat ini, pekerjaan saya. Karena itu, tahun 2020 ini saya membuat batasan dalam hidup saya. Tidak ada yang harus di dunia ini. Semua hanya urusan prioritas saja. Dulu saya mengharuskan diri saya merajut 2 jam sehari dan membaca buku 1 jam sehari. Hasilnya? Saya lelah. Lelah sekali. Jam tidur berantakan, kantong mata semakin hitam, dan saya merasa tidak memiliki hobi. Semua adalah kewajiban.

Karena itu, beberapa hari yang lalu, saat saya mengupload progress membaca buku di tahun 2020 beberapa teman mengirim DM dan berkata iri dengan betapa rajinnya saya membaca. Saya hanya berkata, sempatkan. Saya pun awalnya hanya membaca buku 15 menit perhari. Namun saat mereka berkata tidak mampu menyempatkan karena beberapa alasan, yasudah tidak apa-apa. Tidak semua orang harus membaca buku. Saya pun dengan semakin rajin membaca maka mengorbankan waktu merajut. Nanti kapan-kapan saya tuliskan alasan saya memilih membaca daripada merajut ya. Pada akhirnya semua hanya masalah prioritas. Tidak ada yang harus di dunia ini. Tapi kalau kamu iri, ya sempatkan. Kalau tidak bisa menyempatkan, tidak apa-apa, terima lah kenyataan itu dan syukuri saja waktu 24 jam yang kamu miliki saat ini. Hidup ini sudah melelahkan, jangan stress untuk hal-hal yang harusnya menenangkan pikiran.

Sekali lagi saya ingatkan, tidak ada yang harus di dunia ini. Yang ada hanya, lakukan lah hal yang menurut kamu benar dan sesuai dengan komitmen yang kamu pilih. Eh gimana? Komitmen? Iya, karena kalau tidak begitu nanti ungkapan 'tidak ada yang harus di dunia ini' malah menjadi bumerang. Yang paling ekstrem kalau sampai ada yang berkata karena kan tidak harus, lalu mengapa manusia bekerja dan mengapa manusia harus beribadah? Simply karena kamu harus menjaga komitmenmu. Saya bekerja, karena saya berkomitmen pada diri saya sendiri untuk hidup dengan nyaman. Kalau saya tidak bekerja, dari mana cuan-cuan berdatangan? Saya beribadah, karena itu komitmen saya dengan Tuhan saya. Dan walau saya lahir dengan agama ini, namun saat ini saya memeluk agama ini dengan kesadaran penuh tanpa paksaan. Dan ibadah adalah wujud komitmen saya. Jadilah manusia yang bertanggung jawab. Lakukanlah prinsip 'tidak ada yang harus di dunia ini' dengan kesadaran penuh, dengan tanggung jawab penuh, dan tanpa paksaan dari siapa pun. Akhir kata, buat saya, yang harus itu cuma satu, kamu harus bahagia.
.
.
.
Eh enggak sih, nggak harus. Kalau kamu lebih suka hidup bersedih, ya tidak apa-apa :)))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Penumpukan Emosi

Tentang Menggapai Mimpi

Dua Puluh Enam Tahun Sudah