Tentang Penumpukan Emosi
Belakangan ini emosi saya tidak stabil. Saya seringkali merasa lelah luarbiasa, selalu marah, mudah bersedih, dan mengalami perubahan emosi yang cepat sekali berubah. Kadang saya menemukan diri saya menangis saat mengendarai sepeda motor, mandi, atau sholat. Namun begitu saya menyadari kalau saya sedang menangis, tangisan itu segera berhenti dan saya kembali merasa seperti tidak ada apa-apa. Badan pun rasanya mudah sekali lelah. Karena itu setiap hari sepulang kantor, saya hanya mandi, makan, sholat, dan tidak melakukan apa-apa lagi selain scrolling instagram, menonton youtube, serta membaca novel di ipusnas. Saya hampir tidak pernah begadang, namun selalu terbangun di tengah malam. Pagi hari pun saat bangun saya merasa kelelahan luar biasa. Setelah hal ini berlangsung cukup lama, baru lah saya menyadari, terlalu banyak emosi terpendam di dalam diri saya.
Sedari kecil saya diajarkan untuk tidak menunjukkan emosi kepada orang lain. Kita boleh sedih, kita boleh lelah, tapi simpan perasaan itu untuk diri sendiri. Orang lain tidak perlu tau apa yang kita rasakan. Mereka hanya perlu tau sisi bahagia kita. Karena itu, saya seringkali abai dengan emosi saya sendiri. Bila ada teman yang berkeluh kesah pada saya, saya hampir selalu berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Apa yang harus saya perbuat untuk menyenangkan dia? Saya hampir selalu meletakkan emosi saya di urutan terakhir. Seringkali siap sedia menjadi pendengar saat ada orang lain yang bersedih, namun saya lupa mendengarkan perasaan saya sendiri. Dan tiba-tiba, tanpa saya sadari emosi saya, ditambah emosi orang lain terus menumpuk dan menyebabkan saya menjadi lelah luar biasa dan mudah marah. Beruntung sekali ada dua orang yang hampir selalu siap mendengarkan semua drama kehidupan saya tanpa lelah. If you read this, you know it's you.
Saya yakin bukan saya saja yang mengalami ini. Saya yakin ada banyak sekali orang lain di luar sana yang meletakkan perasaan orang lain lebih penting daripada perasaannya sendiri. Dan tiba-tiba baru menyadari saat sudah lelah luar biasa dan emosinya tidak lagi bisa ia kontrol. Saya tidak bilang menjadi pendengar adalah hal yang buruk, tapi kita tidak boleh abai kepada emosi kita sendiri. Sudah saatnya kita memperlakukan diri kita seperti kita memperlakukan orang lain. Saya rasa pepatah, 'Perlakukan lah orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain' sudah tidak relevan. Karena membuat kita berbuat baik pada orang lain, hanya karena kita juga ingin diperlakukan dengan baik.
Bagi saya, untuk berkata 'tidak', itu tidak apa-apa. Untuk memberi jarak kepada orang lain juga tidak apa-apa. Karena kita pun butuh untuk mencharge tenaga dan mengeluarkan emosi negatif kita. Tidak melulu harus menyerap emosi negatif dari orang lain. Menyadari emosi diri sendiri dan tau kapan waktunya untuk memberi jarak pada orang lain bukan hal yang salah. Tidak lantas membuat kita menjadi egois. Karena kadang memang butuh jarak untuk menjaga kewarasan. Dan kita harus selalu memastikan perhatian yang kita berikan kepada orang lain, seimbang dengan perhatian yang kita berikan pada diri kita sendiri.
Lalu bagaimana cara mengeluarkan emosi negatif yang sudah terlanjur menumpuk? Buat saya, mengeluarkan energi negatif itu dengan melakukan hal-hal positif seperti berolahraga ringan hingga lelah adalah hal yang tepat. Atau merefresh pikiran dengan menonton film yang menguras emosi tanpa distraksi juga bisa menjadi alternatif. Setelah pikiran kita sudah lebih refresh dan badan sudah segar, kita siap kembali untuk mengelola emosi dengan waras, bahkan membantu orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan dukungan.
Akhir kata, saya hanya ingin mengingatkan .....
ALWAYS PUT YOURSELF FIRST
Sedari kecil saya diajarkan untuk tidak menunjukkan emosi kepada orang lain. Kita boleh sedih, kita boleh lelah, tapi simpan perasaan itu untuk diri sendiri. Orang lain tidak perlu tau apa yang kita rasakan. Mereka hanya perlu tau sisi bahagia kita. Karena itu, saya seringkali abai dengan emosi saya sendiri. Bila ada teman yang berkeluh kesah pada saya, saya hampir selalu berpikir, apa yang bisa saya lakukan? Apa yang harus saya perbuat untuk menyenangkan dia? Saya hampir selalu meletakkan emosi saya di urutan terakhir. Seringkali siap sedia menjadi pendengar saat ada orang lain yang bersedih, namun saya lupa mendengarkan perasaan saya sendiri. Dan tiba-tiba, tanpa saya sadari emosi saya, ditambah emosi orang lain terus menumpuk dan menyebabkan saya menjadi lelah luar biasa dan mudah marah. Beruntung sekali ada dua orang yang hampir selalu siap mendengarkan semua drama kehidupan saya tanpa lelah. If you read this, you know it's you.
Saya yakin bukan saya saja yang mengalami ini. Saya yakin ada banyak sekali orang lain di luar sana yang meletakkan perasaan orang lain lebih penting daripada perasaannya sendiri. Dan tiba-tiba baru menyadari saat sudah lelah luar biasa dan emosinya tidak lagi bisa ia kontrol. Saya tidak bilang menjadi pendengar adalah hal yang buruk, tapi kita tidak boleh abai kepada emosi kita sendiri. Sudah saatnya kita memperlakukan diri kita seperti kita memperlakukan orang lain. Saya rasa pepatah, 'Perlakukan lah orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain' sudah tidak relevan. Karena membuat kita berbuat baik pada orang lain, hanya karena kita juga ingin diperlakukan dengan baik.
Bagi saya, untuk berkata 'tidak', itu tidak apa-apa. Untuk memberi jarak kepada orang lain juga tidak apa-apa. Karena kita pun butuh untuk mencharge tenaga dan mengeluarkan emosi negatif kita. Tidak melulu harus menyerap emosi negatif dari orang lain. Menyadari emosi diri sendiri dan tau kapan waktunya untuk memberi jarak pada orang lain bukan hal yang salah. Tidak lantas membuat kita menjadi egois. Karena kadang memang butuh jarak untuk menjaga kewarasan. Dan kita harus selalu memastikan perhatian yang kita berikan kepada orang lain, seimbang dengan perhatian yang kita berikan pada diri kita sendiri.
Lalu bagaimana cara mengeluarkan emosi negatif yang sudah terlanjur menumpuk? Buat saya, mengeluarkan energi negatif itu dengan melakukan hal-hal positif seperti berolahraga ringan hingga lelah adalah hal yang tepat. Atau merefresh pikiran dengan menonton film yang menguras emosi tanpa distraksi juga bisa menjadi alternatif. Setelah pikiran kita sudah lebih refresh dan badan sudah segar, kita siap kembali untuk mengelola emosi dengan waras, bahkan membantu orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan dukungan.
Akhir kata, saya hanya ingin mengingatkan .....
ALWAYS PUT YOURSELF FIRST
Komentar
Posting Komentar