Tentang Live Life To The Fullest


Beberapa hari yang lalu saya menonton Disney Soul bersama adik saya. Dan setelahnya, bahkan hingga hari, ini saya masih memikirkannya. Saya selalu iri pada orang-orang seperti Joe Gardner yang benar-benar tau apa yang ia inginkan dalam hidup. Kadang saya merasa saya tidak pernah benar-benar tau apa yang saya inginkan. Saya tidak pernah benar-benar melakukan suatu hal dari hati. Saya menyukai hidup saya, mensyukuri setiap hari yang saya lalui, namun tidak ada hal-hal istimewa seperti bagaimana Joe mencintai musik. Saking cintanya pada musik, Joe rela mengorbankan kestabilan hidup hanya demi bisa menjadi pemusik profesional. Sejak kecil Joe tau, ia dilahirkan untuk bermain musik.

Sebenarnya di dunia nyata pun banyak orang seperti Joe yang rela meninggalkan kestabilan hidup demi bermain musik, atau hal-hal lainnya. Mereka tau apa yang sangat ingin mereka lakukan dalam hidupnya. Mereka hidup tidak hanya untuk bekerja. Mereka tidak kenal lelah demi memuaskan panggilan hati dan melakukan hal yang benar-benar mereka cintai.

Saya tidak memiliki cinta sebesar itu pada apapun. Saya menyukai pekerjaan saya, menyukai tantangan yang muncul setiap harinya, menyukai rasa puas setiap belajar hal baru. Dan tentu saja saya mensyukuri pekerjaan saya dan setiap rupiah yang saya hasilkan dari pekerjaan ini. Namun saya tidak secinta itu sampai merasa ingin hari libur segera berakhir. Saya akan sangat bersyukur bila ada libur dua atau tiga hari saja satu minggu. Kalau bisa memilih, daripada pergi ke proyek, saya lebih ingin menikmati hari Minggu dengan mencuci, memasak, lalu tidur-tiduran menonton film. Namun apa daya, saya memang golongan pecinta cuan, jadi pada akhirnya hari Minggu pun saya selalu berangkat ke proyek dengan kesadaran penuh, walau tidak dengan suka cita. Tapi bila disuruh resign dan meninggalkan pekerjaan saya, tentu saya tidak mau. Karena sebagai golongan pecinta cuan, saya belum menemukan kegiatan lain dengan nominal uang yang sama, atau paling tidak kalau pun cuan tidak sebanyak bekerja di proyek, namun lebih saya cintai.

Karena itu saya iri dengan Joe, ataupun orang-orang lain yang rela meninggalkan pekerjaan mereka demi hal yang mereka cintai. Saya ingin juga merasakan cinta sebesar itu. Saya pernah berpikir bahwa passion saya adalah merajut. Namun ternyata, tidak juga. Saya tidak pernah betah merajut dalam waktu lama tanpa disambi menonton film. Tidak seperti Joe yang bisa tenggelam dalam musiknya, saya tidak pernah tenggelam dalam rajutan saya. Setiap harinya saya harus memaksa diri saya untuk konsisten merajut satu jam (atau satu episode) perhari. Setelah satu episode selesai, saya akan meletakkan rajutan saya dengan gembira. Tapi bukan berarti saya tidak menyukai merajut. Tidak juga, saya menyukai perasaan saat karya saya selesai. Saya masih sering narsis dan memuji hasil rajutan tangan saya sendiri. Dan bagi saya, merajut tidak melulu tentang cuan karena saya tidak pernah menjual hasil rajutan saya bahkan rela bila ada orang yang ingin mengambil hasil tangan saya secara cuma-cuma, asal saya merajut apa yang saya inginkan.

Saya memang susah fokus dan konsentrasi pada satu hal dalam waktu lama. Kata Bunda, sudah begitu sejak kecil. Saat kecil saya terbiasa belajar sambil menonton TV. Berlanjut ke saat kuliah, saya bisa mengerjakan tugas kampus sambil split screen dengan drama korea. Pun saat kerja, saya tidak suka bila bekerja dalam keheningan. Musik dan podcast selalu saya nyalakan. Atau mungkin, saya hanya tidak suka hening. Saya tidak suka tidur tanpa suara kipas angin atau AC. Rasanya tidak nyaman. Dan susah fokus ini berlaku untuk hal-hal lainnya. Saya selalu resah bila melakukan satu hal dalam waktu lama. Merajut, membaca buku, menonton film, hampir selalu saya kerjakan dalam term 15 menit-an. Setelah 15 menit berlalu, saya akan melakukan hal lain. Terlalu banyak hal yang ingin saya lakukan dalam satu hari, dan 24 jam rasanya tidak cukup bila hanya fokus di satu hal. Atau mungkin saya hanya belum menemukan hal yang cukup saya sukai hingga waktu terasa berjalan begitu cepat tanpa saya sadari. Saya belum menemukan apa yang benar-benar saya sukai. Saya belum menemukan jati diri, belum menemukan apa yang ingin saya lakukan pada hidup saya.

Karena itu tadi saya open question di Instagram mengenai pengalaman resign teman-teman saya yang rela meninggalkan pekerjaan formal demi hal-hal yang lebih penting menurut mereka. Saya sedikit tercengang dengan banyaknya jawaban yang saya terima. Beberapa ada yang menjawab resign demi kesehatan mental, resign karena mau travelling, resign karena ingin belajar lagi, ingin mengembangkan bisnis sendiri, ingin punya lebih banyak waktu luang, ingin mewujudkan passion dan memberi kebermanfaatan, ada juga yang karena menikah. Banyak sekali cerita dan saya terkagum-kagum membaca setiap ceritanya. Saya kagum pada semua yang benar-benar tau apa yang mereka inginkan dalam hidup, yang benar-benar tau apa yang baik untuk mereka di luar segalanya. Semoga suatu hari nanti saya bisa menjalani hari-hari dengan perasaan, "Inilah yang saya inginkan dan saya akan hidup secara 'penuh' setiap harinya." Semoga suatu hari nanti saya akan punya alasan untuk melakukan suatu hal dengan sangat gembira walau melelahkan. Sampai saat itu tiba, saya bertekad di 2021 ini saya akan melakukan dan mencoba banyak hal. Saya akan berusaha menemukan diri saya sepenuhnya dan ...

Live life to the fullest

Komentar

  1. Aku juga sama kaya mba, ngga pernah bisa fokus sama satu hal dan suka mencoba hal lain. Bener sih, rasanya jadi kita kayak nggak tau apa yang sebenar-benarnya kita suka dan nyaman menjalaninya dlm waktu lama. Semacam masih belum menemukan jati diri juga sih huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbak, makasih udah komen yaa. Mungkin kita sama ya, sama sama belum menemukan apa yang benar-benar menarik. Makanya aku sekarang lagi suka explore hal-hal baru, siapa tau nanti bisa menemukan apa yang benar benar menarik buat aku hehe. Btw salam kenal ya Mbak :)

      Hapus

Posting Komentar