Tentang Perasaan
It expands later, & thus we don’t have complete emotions about the present, only about the past.
- Virginia Woolf
Saya sedang belajar untuk kembali membaca buku. Alih-alih sekedar membaca novel seperti yang kadang saya lakukan di kala weekend di rumah, saya belajar untuk membaca buku non-fiksi berbahasa Inggris. Kenapa harus berbahasa Inggris? Hanya supaya saya bisa sekalian belajar bahasa Inggris dalam prosesnya.
Terinspirasi dari Felicia Putri Tjisaka, saya berencana konsisten #1day1chapter dan merangkumnya.
Ntah pada akhirnya rangkuman itu akan saya masukkan dalam instastory atau sekedar saya simpan untuk diri saya sendiri. Dan buku yang saat ini saya baca adalah Educated yang merupakan memoir dari Tara Westover. Singkat cerita, buku ini menceritakan tentang Tara Westover yang berhasil masuk perguruan tinggi hingga mendapat gelar ph.D padahal karena satu dan dua alasan, ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal sebelumnya. Tapi jangan tanya saya apa buku itu bagus atau tidak, hingga saya menulis kata ini, saya baru membaca satu halaman.
Lalu, apa hubungannya Tara Westover dengan perasaan? Sebenarnya, saya juga tidak tau karena memang belum membaca bukunya. Namun di awal buku tersebut, ada dua quotes. Salah satunya dari Virginia Woolf seperti yang saya tuliskan di atas. Quote tersebut mengusik hati saya. Dengan keras langsung menancap di hati, membuat saya berpikir lama sekali. Saya tidak tau apa saya benar menginterpresentasikan quote tersebut, namun inilah yang saya rasakan.
Saya terpikir tentang perasaan yang kita rasakan pada masa lalu kita. Mungkin benar kata Virginia Woolf, kita tidak pernah benar-benar memahami perasaan kita pada saat ini. Pada detik ini. Namun seiring berjalannya waktu, saat kita melihat lagi ke belakang, mungkin perasaan kita baru akan terasa lengkap dan kita dapat melihat moment itu dari sudut pandang berbeda.
Seperti hal yang pernah saya alami. Ada satu fase dalam hidup saya di mana yang saya rasakan adalah kesedihan mendalam. Pada masa itu tidak ada hal lain yang saya rasakan selain rasa sedih, depresi, dan segala perasaan negatif lainnya. Seiring berkembangnya waktu, perasaan negatif itu berkembang. Ada rasa marah yang turut mendampingi rasa sedihnya. Dan yang bisa saya rasakan akan moment itu hanya perasaan negatif. Tapi ternyata, hari ini saat saya putar kembali kenangan akan masa itu, perasaan sedihnya memang masih ada, kecewanya masih membekas, namun ada perasaan-perasaan lain yang muncul. Saya merasa bersyukur telah berhasil melaluinya dengan baik. Ada sedikit penyesalan memang, namun rasa syukur dan bangganya mendominasi.
Apa yang saya pikirkan ini sedikit banyak membuat saya teringat pada film Inside Out. Bagi Joy, perasaan yang boleh dirasakan oleh Riley hanya bahagia. Hmm mirip sosok Ayah di film NKCTHI hahaha. Kembali ke Inside Out, Joy tidak merasakan apa manfaat dari perasaan marah, jijik, apalagi sedih. Riley hanya boleh bergembira. Namun di akhir cerita, barulah ia menyadari, manusia memang tidak bisa melulu bahagia. Dan itu tidak apa-apa. Toh ternyata ada moment-moment indah yang diciptakan justru karena adanya rasa sedih. Dan ya, pada kenyataannya moment sedih cenderung lebih membekas di hati saya.
Jadi, sedih itu tidak apa-apa. Toh tidak akan selamanya. Nanti, bersama dengan berjalannya waktu, kenangan sedih bisa jadi akan membawa sedikit rasa manis saat kita kenang kembali.

Komentar
Posting Komentar