Tentang Hadir Di Sini, Saat Ini
Jalanan Surabaya yang ruwet, kaya pikiran
~~~
Seberapa sering kita mengkhawatirkan apa yang belum terjadi? Seberapa sering kita menyesali apa yang sudah berlalu sampai kita lupa untuk hadir di sini, saat ini?
Belakangan ini saya sering sekali merasa seperti itu. Sibuk mengkhawatirkan masa depan dan menyesali masa lalu hingga melupakan bahwa sejatinya hidup adalah apa yang berjalan saat ini. Saya tau, percuma saya mengkhawatirkan apa yang belum terjadi tapi masa kini berantakan karena saya fokus pada apa yang 'harus' atau 'harusnya' saya capai. Pada akhirnya lingkaran setan kekhawatiran ini tidak akan pernah berhenti. Rasa khawatir ini perlahan menggerogoti saya. Membuat saya merasa lelah tidak berkesudahan, susah fokus, dan malas melakukan hal-hal yang sebelumnya saya minati. Saya tau, saya tidak bisa terus begini, namun berhenti merasa khawatir bukanlah hal yang mudah.
Tadi malam saya menyimak IG live Mas Adjie Santosoputra dan ada beberapa kata-kata Mas Adjie yang membuat saya terdiam lama, dan berpikir. Berikut saya rangkumkan sedikit dari apa yang dikatakan Mas Adjie.
- Kalau menurutmu, hidup ini bisa dipastikan atau nggak?
- Bisakah hidup ini kita kendalikan?
- Penyebab kita stress, termasuk penyebab kita overthinking karena kita merasa hidup ini bisa kita kendalikan.
- Yang bikin kita stress, bukan kondisi yang tidak bisa kita pastikan. Tapi saat kita berusaha berlebihan memastikan apa yang tidak pasti.
Tadi malam Mas Adjie memberi contoh dengan daun yang berguguran. Kalau kita fokus kepada daun itu, merencanakan kapan harusnya ia gugur, dan daun yang mana yang harus gugur atau bertahan, tentu kita akan stress karena siapa pula yang bisa memastikan detik-per-detik gugurnya daun. Namun saat tidak dipikirkan, tentu tidak akan terasa stress. Kalau gugur lalu kita tidak suka melihatnya mengotori halaman, ya disapu. Sesederhana itu. Sama seperti hidup, saat sudah berupaya agar rencana kita terlaksana, yasudah apalagi yang harus dipikirkan? Bagaimana hasilnya sudah di luar kuasa kita. Karena ternyata hidup ini hanya bisa kita rencanakan, tidak bisa kita kendalikan.
Ada satu lagi quote tentang bagaimana kita menyikapi kehidupan, yang saya suka. Satu ini datangnya dari Pema Chodron.
"You are the sky. Everything else - it's just the weather."
Di atas kita, langit selalu terbentang luas dan suasananya selalu berubah-ubah tak bisa kita pastikan. Bahkan ramalan cuaca pun tidak bisa 100% akurat. Seperti saat saya menulis ini, kata ramalan cuaca sekarang mendung padahal kenyataannya hujan turun cukup deras. Begitu juga kehidupan. Kita selalu ada, kita selalu bisa merasa. Tapi apa yang kita rasakan tidak pernah pasti. Bisa jadi kita bangun pagi dengan ceria dan optimis, namun saat sampai di kantor ada hal yang membuat kita sedih dan gundah luar biasa. Hidup bisa terasa seperti hujan deras, atau bahkan badai, namun sebenarnya apa yang kita rasakan bisa lebih luas dari itu. Di balik badai, mungkin ada angin sepoi-sepoi yang menyegarkan namun kita terlalu fokus pada badainya. Jangan fokus pada badainya. Fokuslah pada dirimu. Kamu yang punya kuasa mengatur apa yang kamu rasakan. Boleh menikmati badai, boleh menangis di bawah hujan, namun pastikan hujannya tidak menelanmu hingga kamu lupa bahwa ada hari-hari cerah yang indah.
Btw, semua hal yang saya tulis di atas sesungguhnya adalah reminder kepada diri sendiri. Tentu saja sampai detik ini saya masih sering cemas berlebihan. Masih sering nangis kalau ada trigger sedikit saja. Tapi saya harap, apa yang saya tulis bisa menjadi kekuatan dan pengingat untuk diri saya sendiri, dan siapa tau, orang lain yang membaca 😀

Komentar
Posting Komentar