Tentang Perjalanan

Saya bukan orang yang menyukai perjalanan. Saya tidak suka packing. Tidak suka perasaan, "Ada yang ketinggalan tidak ya?" saat saya sudah yakin kalau semua barang bawaan sudah siap angkut. Saya tidak suka rasa lelah mengangkat banyak tas dalam perjalanan menyusuri peron stasiun atau gate bandara. Saya bukan orang yang bisa mengepak sedikit barang tiap akan bepergian, karena itu kegiatan packing tidak pernah saya nikmati. Saya cenderung baru packing di detik-detik terakhir karena malas, namun panik kemudian. Karena itu saya akan membawa banyak barang yang saya kira akan saya perlukan. Padahal biasanya juga barang-barang itu tidak sempat saya gunakan. Barang paling tidak pernah saya gunakan namun selalu saya bawa ke mana-mana walau berat adalah laptop yang hampir seberat 2 kg ini. Berdasar pengalaman jauh dari rumah selama sembilan tahun dan sering kali menempuh perjalanan berjam-jam untuk pulang, saya tau, kalau laptop yang saya bawa tidak akan saya gunakan untuk menyicil pekerjaan. Tapi nyatanya saya tidak pernah kapok dan selalu membawanya ke sana kemari.

Moda transportasi favorit saya adalah kereta dan pesawat. Karena saat berada dalam kereta atau pesawat, saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan untuk membunuh waktu, tanpa rasa mual. Saya bukan tipe orang yang akan memandang keluar jendela sambil mendengarkan musik dan menikmati setiap pemandangan yang dilewati. Namun saya juga tidak mudah tidur dalam perjalanan bila perjalanan itu dilakukan di siang hari. Karena itu saya akan membawa rajutan, sulaman, novel, atau konsol game. Tidak lupa juga baterai HP dan powerbank selalu saya isi hingga penuh. Saya akan melakukan apa saja agar tidak bosan dan membuat perjalanan enam jam tidak terasa lama. Karena itu, saya tidak suka berkendara dengan travel atau bis karena tidak ada yang bisa saya lakukan. Bermain HP terlalu lama saja bisa membuat mual. Namun sebenarnya semua itu tergantung dengan siapa saya menempuh perjalanan. Bila bersama keluarga, bahkan perjalanan dengan mobil picanto berenam selama 12 jam pun akan saya lalui dengan gembira. Pada akhirnya, perjalanan tidak melulu tentang dari mana dan mau ke mana, tapi juga dengan siapa.

Sudah tau tidak suka perjalanan. Sudah tau selalu kelelahan setelah selesai perjalanan. Tapi kenapa masih juga keras kepala selalu pulang ke kampung halaman dua minggu sekali? Dalam kurun waktu singkat pula. Berangkat Jumat siang, pulang Minggu pagi. Capeknya belum hilang, sudah harus menempuh perjalanan lagi. Karena ya seperti yang saya bilang tadi, perjalanan tidak melulu mau ke mana, tapi juga dengan siapa, atau dalam sebagian besar cerita saya, akan bertemu siapa.

Saya pulang untuk bertemu keluarga saya. Kedua orang tua, dan adik-adik saya. Juga nenek, om tante dan adik-adik sepupu. Sepanjang perjalanan enam jam dari rantau menuju rumah, capek dan bosan memang. Tapi melihat kedua orang tua dan kadang adik saya menjemput di luar stasiun, rasa lelah itu hilang. Sungguh, ini bukan gombal. Memang begitu adanya. Walau pernah mereka telat datang menjemput karena macet, tapi saya tidak bisa marah. Padahal sesaat sebelumnya, saya masih mengeluhkan rasa lelah di perjalanan. Begitu sampai di rumah, saya seringkali langsung mandi, makan, dan mengobrol hingga malam. Tidak ada lagi perasaan lelah dan ingin bermalas-malasan. Pagi harinya pun saya bisa langsung bangun Subuh dan tidak ada rasa ingin tidur lagi. Saya selalu bersemangat pergi ke pasar, jogging, memasak, atau pun hal-hal lainnya yang sebenarnya tidak spesial. Saya bisa saja memasak atau jogging di rantau. Tapi siapa yang menemani saya membuat semuanya terasa berbeda.

Biasanya rasa lelah itu justru baru akan muncul saat sudah sampai di kosan. Begitu badan menyentuh kasur kosan, semua rasa lelah tiga hari kebelakang akan muncul ke permukaan dan pada saat itu badan saya akan berubah ke mager-mode. Setiap setelah pulang ke rumah, saya butuh tiga hari bermalas-masalan (kerja-makan-mandi-sholat-tidur saja) sebelum tenaga saya akan terisi kembali dan saya bisa beraktifitas secara normal. Normal di sini maksudnya bangun tidur tanpa basa-basi, mencuci di pagi hari, berangkat ke kantor dengan semangat tidak terlambat, dan membereskan kamar sepulang kerja. Namun apa lantas saya kapok pulang ke rumah? Oh jelas tidak. Perasaan bahagia bertemu keluarga, menghabiskan waktu dengan bercanda dan bercerita dengan mereka, semua tidak ternilai. Apalah arti rasa lelah bila dibandingkan dengan rasa bahagianya?

Kadang saya berpikir, ternyata konsep perjalanan itu mirip dengan konsep kehidupan. Mulai dari konsep penentuan tujuan, moda tranportasi pilihan, rute yang ingin dilewati, kegiatan yang bisa dilakukan di sela-sela waktu dalam pencapaian tujuan, mau pun siapa yang kita pilih untuk mendampingi atau ditemui, semua sama seperti kehidupan secara garis besar. Dalam hidup kita tentu memiliki tujuan agar tidak luntang-lantung tak tentu arah. Saat tujuan nya sudah terlihat jelas, kita bisa memilih cara untuk mencapainya. Kita bisa menentukan step by step lalu target waktunya. Namun kadang hidup tidak sesederhana itu. Selalu ada faktor X yang membuat tujuan itu tidak mudah kita capai. Tapi kita selalu memiliki pilihan untuk merubah tujuan, atau sekedar membuat rencana cadangan, mengambil jalur alternatif, dan tetap berakhir di tujuan yang sama walau dengan jangka waktu yang berbeda.

Untuk saya pribadi, dalam tujuan perjalanan maupun kehidupan, faktor WHO alias siapa itu adalah faktor terpenting. Sama seperti saya yang tidak lelah walau harus menempuh perjalanan berjam-jam setiap minggunya, dalam hidup ini pun sumber utama kekuatan saya adalah keluarga. Saya tidak bisa berkata hidup saya mulus, namun keberadaan keluarga saya selalu menjadi kekuatan terbesar di saat semua tantangan ini terasa terlalu banyak dan melelahkan. Saya beruntung karena saya tidak pernah berjalan sendiri dan selalu memiliki orang lain untuk berbagi rasa bahagia maupun lelah dalam perjalanan kehidupan yang sangat panjang ini. Karena itu, walau perjalanannya masih panjang, walau kadang saya harus mengambil jalan memutar balik, bahkan merubah arah tujuan, saya akan terus berjalan dengan berani. Demi saya, dan demi orang-orang yang berjalan bersama saya.

Komentar