Tentang Menikmati Proses

"Mengapa hasil selalu lebih penting dari pada proses? Mengapa kita tidak belajar untuk menikmati proses sebelum menuntut hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan?"
Saya pernah ada di masa di mana hidup bagi saya sebatas post instagram. Saya berkarya, karena merasa profil instagram saya sepi tanpa konten baru. Saya pergi ke tempat baru, untuk update insta-stories. Saya mencari tempat makan lucu demi memuaskan rasa 'pamer'. Setiap instagram post saya mendapat banyak like, saya lebih bersemangat untuk membuat karya-karya baru. Saya bahkan sampai memiliki lima akun instagram. Semuanya dengan niche berbeda, dan memiliki 'target pasar'-nya masing-masing. Namun dengan waktu hanya 24 jam, tidak mungkin semua instagram itu dapat saya maintain. Perlahan instagram dengan follower paling sedikit dan jumlah like tidak memuaskan saya tinggalkan. Saya lebih fokus ke instagram dengan follower terbanyak, @hellopico.
Saya tau rasa haus akan follower dan like tidak selamanya buruk. Saya jadi lebih semangat merajut dan membuat konten-konten untuk Hello Pico, namun saya juga menyadari, hanya karena jumlah like, saya jadi kehilangan minat untuk melakukan hobi saya yang lain, yaitu membaca dan fotografi. Karena follower dan like di instagram tentang buku saya, @diyscupoftea tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan instagram rajutan, saya perlahan menjadi malas membaca dan mereview buku. Saya memang bukan selebgram, namun nyatanya jumlah like dan follower cukup berpengaruh dalam hidup saya.
Saya pernah memaksa membuat knitted shawl hanya karena saya merasa mereka yang berhasil membuat shawl itu keren. Namun nyatanya, saya tidak menikmati setiap prosesnya, dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Saya juga pernah memaksa membaca suatu buku yang sungguh hype dan semua orang membacanya, namun ternyata buku tersebut bukan tipe buku yang saya suka. Akhirnya saya berkali-kali mengalami reading slump hanya karena satu buku, dan butuh satu tahun lebih untuk benar-benar menyelesaikannya. Ketika saya akhirnya mampu menyelesaikan buku itu, orang-orang telah beralih ke bacaan lain dan akhirnya lagi-lagi saya merasa 'ditinggalkan'. Membuat saya semakin malas membaca. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa seharusnya, apa yang saya lakukan adalah untuk diri saya sendiri. Melakukan sesuatu untuk diri sendiri adalah salah satu wujud paling sederhana dari self love. Kita tidak perlu memaksa membuat atau melakukan sesuatu yang tidak kita suka, hanya untuk orang lain.
Saat ini saya berpikir untuk mulai benar-benar belajar mencintai apapun yang saya lakukan dan melakukannya untuk diri saya sendiri. Karena bila saya melakukannya untuk kepuasan diri saya, maka sekalipun tidak ada apresiasi, sekalipun likes di instagram tidak banyak, sekalipun hasilnya tidak sempurna, bahkan sekalipun saya bosan dan memutuskan berhenti di tengah jalan, saya tau bahwa saya akan tetap menikmati segala prosesnya. Dan menikmati proses berkarya adalah suatu perasaan healing bagi saya. Perasaan healing ini baru saya rasakan saat saya memahami bahwasannya berkarya harusnya untuk kebahagiaan diri sendiri dulu. Pada titik itu barulah saya merasakan sebenar-benarnya arti dari crafts as therapy. Merajut membuat saya bahagia, membuat saya relaks dan sejenak melupakan masalah yang saya rasakan. Saya menikmati setiap tarikan benangnya, saya mencintai semua karya saya, dan memamerkan hasilnya di instagram tidak lagi menjadi prioritas.
Sekarang waktu merajut adalah waktu yang selalu saya tunggu-tunggu. Karena tidak ada lagi tekanan dalam mengerjakannya. Setiap pulang kerja, saya selalu menyempatkan merajut dulu sebelum melakukan hal-hal lainnya, karena dengan merajut pikiran saya menjadi relaks dan melepaskan ketegangan yang saya rasakan di kantor. Dan justru saat menyadari perasaan healing itu, saya tidak perlu memaksa diri saya menyelesaikan satu karya. Karena tanpa perasaan terpaksa pun, karya tersebut akan saya selesaikan dengan bahagia.
Saya masih memiliki target mingguan yang berusaha saya tepati. Tapi bila dulu target mingguan itu terasa menekan saya, sekarang tidak lagi. Sekalipun target itu tidak dapat saya penuhi karena kesibukan lain yang lebih prioritas, saya tidak lagi merasa kesal karena saya tau, berkarya tidak seharusnya menyiksa. Namun bukan berarti lalu saya berleha-leha dan melupakan target itu. Karena nyatanya, tanpa dipaksa dengan target mingguan pun, merajut sudah sangat menyenangkan. Jadi intinya, kita harus tau dulu tujuan kita berkarya apa, setelah kita tau tujuan dan dapat menikmati setiap prosesnya, tanpa ada paksaan pun kita akan melakukannya dengan senang hati.
Saya bisa bilang begini karena saya tau rasanya merajut karena terpaksa. Saya sampai pernah berhenti dari dunia rajutan 3-4 tahun karena tidak menyukai perasaan terpaksa yang mengejar saya. Pada saat itu saya merasa bahwa merajut mungkin bukan untuk saya. Tapi ternyata saya salah. Metode dan perasaan yang saya berikan tidak tepat sehingga semua terasa seperti keterpaksaan.
Sekarang, dibandingkan menyibukkan diri untuk merajut demi konten dan materi, saya lebih menikmati merajut untuk diri saya sendiri, untuk ketenangan jiwa dan kebahagiaan saya. Bila hasil rajutan saya bisa membuat senang orang lain dan mendapat banyak respon positif di sosial media, semua adalah bonus. Yang penting bagi saya adalah bagaimana saya bahagia dalam setiap proses yang saya lalui bersama karya-karya dan setiap hal yang saya lakukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Penumpukan Emosi

Tentang Menggapai Mimpi

Dua Puluh Enam Tahun Sudah