Tentang Menggapai Mimpi
Sebagian besar dari kita pasti punya cita-cita dalam hidup ini. Tentu
ada juga orang yang berprinsip hidup seperti air mengalir, namun saya
yakin mereka pun punya mimpi apa yang ingin mereka capai dalam hidup.
Mungkin hanya dalam batas angan saja, namun at least pasti ada.
Tapi berapa banyak dari kita yang pada akhirnya berhenti hanya di
cita-cita saja karena tidak berani menggapainya? Saya yakin, pasti
banyak. Karena saya pun begitu. Sampai detik ini, walau sudah merasa
nyaman dengan hidup sebagai karyawan ber-gaji bulanan tetap setiap
bulannya, saya masih memiliki harapan untuk terus berkembang. Sampai
hari ini, bahkan empat jam yang lalu, setiap melihat ‘gedung setengah
jadi’ dengan tower crane berdiri berjajar di sitenya, saya
selalu berpikir, “Kapan ya, saya bisa mengerjakan bangunan sebesar itu?”
Padahal kenyataannya, saya bukannya tidak pernah diberi kesempatan.
Sebenarnya saya pernah ditawari untuk interview di suatu perusahaan
kontruksi yang tengah mengerjakan apartemen megah, tapi tidak saya ambil
karena saya takut meninggalkan zona nyaman saya. Dan hingga hari ini,
walau saya tau tidak seharusnya saya menyesal, kadang saya berpikir,
“Andai dulu kesempatan itu saya ambil. Bagaimana hidup saya hari ini?”
Ya memang belum tentu juga saya akan lolos test wawancara, namun tidak
mencoba sama sekali membuat saya semakin menyesal. Dan benar adanya,
kesempatan emas tidak akan datang dua kali.
Saya yakin saya tidak sendirian. Pasti banyak dari kita yang memiliki
cita-cita namun tidak pernah bergerak mencapainya karena beragam
alasan. Salah satunya adalah bisikan hati. Ketakutan, keraguan, dan
lainnya. Pada akhirnya kesempatan tidak pernah kita coba dan cita-cita
tidak pernah kita gapai. Kali ini saya ingin berbicara tentang bisikan
hati dan bagaimana mengontrolnya sehingga kita lebih berani menggapai
mimpi.
Saya rasa cara pertama adalah dengan tidak menunda. Selama
bertahun-tahun bermimpi mengerjakan bangunan megah, saya hanya berhenti
di pengandaian. “Andai saya bisa punya kesempatan.”
Lalu apa pengandaian itu membawa saya selangkah lebih dekat kepada
mimpi saya? Ya tentu tidak. Mimpi itu menjadi lebih dekat setelah saya
memutuskan ‘Sekarang adalah saatnya’ lalu saya mulai rajin meng-update dan meng-apply di Jobstreet. Ya walau pada akhirnya saya menyerah sebelum berperang, at least
saya pernah mencoba. Oke, ini pembenaran. Tapi intinya adalah, jangan
menunda. Berapa banyak mimpi kita yang tidak pernah tercapai, hanya
karena kita memang tidak pernah mencoba? Saya sih banyak sekali.
Saya tau, berbicara tentu lebih mudah daripada melakukan. Karena saya
pun merasa seperti itu. Buktinya ada satu mimpi yang sesungguhnya
sangat dekat tapi belum berani saya raih. Dan saat saya mencoba berpikir
lebih dalam tentang impian itu, sebenarnya alasan penundaan itu adalah
diri saya sendiri. Saya (dan kita semua) sering kali berpikir kalau
tidak akan mampu dan mimpi itu terlalu tinggi untuk dicapai. Bahkan
sebelum orang lain men-judge, tanpa sadar kita sudah meremehkan
diri kita sendiri. Dan akhirnya pikiran itu membuat kita menunda. Jadi
sebenarnya, bila digali lebih dalam, kita menunda bukan karena timingnya
tidak tepat. Karena percayalah, tidak ada timing yang benar-benar tepat 100%. Kita menunda karena kita ragu bahwa kita mampu.
Kembali ke pengalaman saya dan jobstreet tadi. Pertama mendapat email
undangan wawancara dan membuka website perusahaan tersebut, saya
senang. Sekaligus takut. Takut membayangkan nantinya harus mengerjakan
bangunan super. Sedangkan pengalaman saya hanya sebatas mengerjakan
resort dan pabrik. Saya takut meninggalkan teman-teman saya yang sangat
saya sayangi. Walau gaji dan jenjang karirnya menggiurkan, rasa takut
itu melumpuhkan saya. Padahal itu adalah mimpi yang diam-diam selalu
saya doakan setiap hari. Tapi nyatanya, saya tidak punya cukup
keberanian untuk menggapainya. Apa ada yang meremehkan saya? Tidak ada.
Karena saya tidak menceritakan undangan itu ke siapapun. Bukan karena
takut diremehkan, tapi karena saya takut mereka berharap dan mendorong
saya padahal saya sendiri ketakutan. Dan akhirnya diam-diam saya menolak
tawaran itu. Sampai hari ini kadang saya masih membohongi diri saya dan
berkata bahwa saya menolak bukan karena takut, namun karena timingnya
tidak tepat. Memang pada saat itu saya baru saja pindah proyek sehingga
sedang sibuk-sibuknya. Namun seperti yang saya bilang tadi, sebenarnya
timing tidak akan pernah tepat. Tergantung niatnya saja.
Kenyataannya memang, berbicara selalu lebih mudah daripada melakukan.
Sudah tidak terhitung berapa kali saya memberi saran kepada teman-teman
saya untuk bergerak mencapai mimpinya. Dan saat pada akhirnya mereka
sungguh menggapai mimpinya, saya menjadi pihak yang merasa iri. Iri akan
keberanian mereka, sedangkan saya sendiri hanyalah pengecut yang hanya
berbicara tanpa aksi. Tapi satu hal yang selalu saya tanamkan kepada
saya dan semua orang lainnya, bahwa takut itu wajar karena kita manusia.
Orang yang pemberani bukanlah yang tidak memiliki rasa takut, namun
yang berani melawan ketakutannya.
Dan saya ingin menjadi orang yang pemberani itu. Saya tidak ingin
membatasi potensi diri saya untuk tumbuh dan berkembang. Saya ingin
belajar hal baru. Karena siapa tau, hal baru yang kita lakukan akan
memberi kepuasan batin, kebahagiaan, atau koneksi baru yang membuat
networking kita semakin luas dan menambah pengalaman baru. Memang kadang
ada saatnya kita perlu memaksa untuk mendorong diri kita ke tepi jurang
untuk menemukan hal-hal baru dan menggapai mimpi. Dan btw,
walau daritadi saya berbicara tentang menggapai mimpi, sebenarnya hal
sesederhana mendaftar les bahasa inggris atau mencoba resep masakan baru
juga perlu keberanian loh.
Untuk beberapa orang yang cuek dan bondo nekat (modal
nekat), mencoba hal-hal baru mungkin tidak seberat mereka yang memiliki
banyak pertimbangan. Dan bagaimana kah cara yang (menurut saya) efektif
untuk mengecilkan bisikan-negatif hati dan berani menggapai mimpi? Saya
akan share di post berikutnya saja ya, karena menurut saya post ini
sudah terlalu panjang hahaha *wink*

Komentar
Posting Komentar