Yuzu Indonesia Masters 2019
Saya sudah tertarik pada badminton sejak tahun 2008, tepatnya saat pegelaran BRI Thomas Cup and Uber Cup 2008. Saya ingat sekali bagaimana kecewanya saya sebelas tahun lalu saat tayangan TV diacak dan gagal menonton Thomas dan Uber Cup pada saat itu. Dan bagaimana bahagianya saya saat akhirnya TransTV menayangkan beberapa hari terakhir. Namun selepas itu, kesukaan saya pada bulu tangkis perlahan memudar karena tidak banyak stasiun TV yang menayangkannya. Selain itu akses informasi juga tidak semudah sekarang.
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2018, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event olahraga bergensi, Asian Games 2018. Warga Indonesia mana yang tidak tahu tentang Asian Games 2018? Saya yakin, bahkan mereka yang tidak tertarik pada dunia olahraga pun paling tidak menonton beberapa pertandingan Asian Games. Pembicaraan dan perhatian semua orang mendadak tersita dengan Asian Games. Begitu pun saya. Di kantor, layar laptop saya hampir selalu menayangkan Asian Games. Pertandingan apapun. Apalagi bila ada bulu tangkis, sudah tentu saya akan fokus ke layar laptop. Untungnya karena saat itu memang tidak banyak pekerjaan, rekan kantor yang lain memaklumi, kadang malah menonton bersama. Selepas Asian Games berakhir, hari-hari saya hampa, serasa tidak ada lagi yang dinantikan setiap harinya (oke, ini berlebihan), dan dari sana lah saya menemukan kecintaan saya kembali pada bulu tangkis.
Setelah Asian Games, setiap hari saya mulai mengikuti setiap pertandingan BWF World Tour via streaming. Dan perlahan cita-cita untuk menonton pertandingan bulu tangkis secara live selalu saya doakan setiap hari. Namun sayangnya saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk menonton pertandingan bulu tangkis secara live di Istora, karena beragam alasan. Karena itu begitu tau akan ada perhelatan Yuzu Indonesia Masters 100 di Kota Malang, saya tidak perlu berpikir dua kali, detik itu juga saya bertekad, halangan seperti apa pun, saya HARUS menonton pertandingan itu.
Long story short, saya berangkat ke Malang pada hari Sabtu, 5 Oktober 2019 naik kereta paling pagi pada pukul 4.41. Pagi sekali? Ya karena saya memang belum mengantongi tiket pertandingan sama sekali. Saya berangkat ke Malang hanya mengantongi izin orang tua dan pakbos yang sungguh baik hati walau anak buahnya cuti untuk urusan kurang penting, nonton badminton. Saya turun di Stasiun Malang Kotalama dan berangkat ke GOR Ken Arok bersama tiga teman yang baru saya temui hari itu. Lokasi GOR Ken Arok cukup jauh dari pusat kota Malang. Saya sampai sekitar pukul 8 pagi. Sekitaran GOR masih sangat sepi, tenant F&B masih tutup, begitu pun ticket booth yang ternyata baru buka pukul 10 pagi. Singkat cerita, saya akhirnya masuk ke dalam venue kurang lebih pukul 11 lebih, berbekalkan balon tepok Yuzu yang saya dapatkan dengan membeli 3 botol Yuzu Isotonic yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam venue. Semua makanan dan minuman dalam bentuk apapun dilarang dibawa masuk ke dalam venue, termasuk tupperware ungu saya. Untungnya saat acara selesai tupperwarenya tidak hilang hahaha.
Saya sengaja memilih tiket VIP karena memang harganya tidak terlalu mahal. Dan beruntung sekali saya bisa duduk di lokasi yang sangat strategis dan dapat menonton pertandingan dari jarak dekat. Saking dekatnya sampai rasanya saya bisa melihat Zhang Nan memandang saya (oke ini halu tingkat tinggi).
Saya rasa tidak perlu saya mendetailkan hasil pertandingan hari Sabtu dan Minggu itu ya, karena toh semua hasil bisa dilihat di website BWF Badminton (emang males ngetik aja LOL). Tapi pertandingan ter greget jatuh kepada pertandingan Adnan Michelle vs Guo/Zhang saat laga final. Aduh itu kalau nontonnya di youtube sudah tentu saya matikan dan tinggal tidur saja. Sakit hati ini dibahagiakan lalu dihempaskan bolak-balik karena deuce. Dan masih terkesan dengan permainan Fadia Ribka yang rapih padahal mereka masih rangking bawah. Semangat calon WD masa depan ya, Dek :')
Cuma satu kata yang bisa saya katakan untuk merangkum dua hari Yuzu Indonesia Masters kemarin. BAHAGIA. Bahagia banget bisa merasakan keramaian stadion dan sorak-sorai IN-DO-NE-SIA-nya yang beneran bikin merinding (sungguh ini nggak lebay). Bahagia banget bisa nonton langsung atlit-atlit yang selama ini cuma bisa saya tonton di layar kaca. Bahagia banget bisa melihat All Indonesian Final versi WD, dan bahagia bahagia lainnya. Kalau gini makin semangat kerja, semangat nabung biar bisa nge-Istora, Insya Allah.
Ps. Saya selipkan foto Pecel Kawi yang legendaris, ya walau saya bukan penikmat pecel :)
Ps. Saya selipkan foto Pecel Kawi yang legendaris, ya walau saya bukan penikmat pecel :)





Komentar
Posting Komentar