Review Film Imperfect: Insecure adalah Milik Semua Manusia, Kecuali Reza Rahardian
Terus gimana kisahnya bisa mau-mauan nonton Imperfect di bioskop? Jadi ceritanya minggu lalu saya sudah koar-koar dengan berapi-api di kantor kalau sore itu saya akan creambath. Pak Bos sampai rela mengizinkan saya pulang cepat jam dua siang demi saya mau creambath. Wow sungguh sepenting itu memang crembath untuk saya. Tapi nyatanya karena hujan deras, saya baru sampai ke lokasi jam empat sore dan ternyata semua therapist nya sudah full hingga pukul setengah tujuh malam. Dengan kesal akhirnya saya menghubungi satu teman kantor yang memang sudah ngotot sejak beberapa hari sebelumnya untuk nonton Imperfect. Yah daripada malam minggu sendu amat tiada tujuan, saya berangkat juga untuk nonton Imperfect.
Jadi Imperfect itu film apa sih sebenarnya? Storyline Imperfect fokus ke masalah insecure yang kita tau banget adalah masalah sejuta umat manusia. Ceritanya dikemas dalam balutan komedi dan drama. Sebagai bukan penyuka film komedi, satu hal yang saya suka, komedinya tidak dipaksa harus lucu seperti kebanyakan film komedi pada umumnya. Porsi komedinya pun pas, tidak membuat saya ilfeel atau merusak emosi yang terbentuk saat rangkaian adegan drama.
Tidak seperti kebanyakan orang yang menonton Imperfect karena faktor E, Ernest Prakasa, saya bukan penikmat karya-karya Ernest Prakasa. Karena seperti yang saya bilang tadi,saya bukan penikmat komedi. Apalagi saat tau basic nya Ernest Prakasa adalah komika, makin nggak tertarik lah saya. Seumur-umur, saya belum pernah menonton stand up komedi, bahkan di youtube sekalipun. Karya-karya nya sebelum Imperfect pun, tidak ada satu pun yang saya tonton. Tertarik nonton aja nggak hahaha. Kalau pun ada sedikit alasan saya pingin nonton Imperfect, ya karena Mbak Puty Puar. Official illustrator film Imperfect. Tapi tepat beberapa hari sebelum nonton film Imperfect, saya kepincut podcastnya Ernest di Inspigo, tentang cognitive flexibility. Dan tepat sekali memang beberapa minggu terakhir saya sedang menyadari kadar multi tasking saya sudah tidak sehat. Dari podcast itu lah sedikit banyak saya 'membuka hati' pada karya Ernest Prakasa, dan yang pertama adalah filmnya. Next target adalah bukunya yang berjudul Setengah Jalan.
Paragraf-paragraf di bawah ini mungkin (bukan mungkin, udah jelas) mengandung spoiler. Jadi buat yang berniat nonton filmnya dan nggak mau di spoiler in, ada baiknya hentikan membaca sampai di sini saja.
Film ini relatable sekaligus nggak-relatable buat saya. Alkisah ada seorang anak perempuan bernama Rara. Rara sejak lahir mirip papanya, gendut, berkulit gelap, berambut keriting kecil mengembang. Mamanya yang adalah Karina Suwandi dengan fisik sempurna sudah sering mengingatkan Rara untuk jaga badan sedari kecil. Hanya papanya yang selalu berada di sisi Rara, suka jajanin Rara eskrim dan memaklumi apapun yang Rara konsumsi. Namun sayangnya sang papa meninggal saat Rara masih muda. Ditambah punya adek berwujud Lulu yang diperankan Yasmin Napper, dan dikelilingi sahabat-sahabat mamanya yang toxic setengah mati, komplit lah sudah penderitaan hidup Rara. Tapi sepintas Rara tampak baik-baik saja. Walau di kantor dikatain ibu hamil, dan di rumah disuruh jaga badan terus sama mamanya, berkat kehadiran sang pacar, Dika yang diperankan Reza Rahardian dan sahabatnya, Fey yang diberikan Shareefa Dhanish, yang menerima dia apa adanya, Rara hampir nggak pernah mengeluh. Sampai saat ada satu hal yang mengharuskan Rara untuk merubah penampilan, di sanalah titik balik saat penonton menyadari, Rara tidak baik-baik saja.
Dari adegan demi adegan kita dibuat menyadari bahwa setiap manusia, secuek apapun dia kelihatannya, tapi sebenarnya ada sesuatu dalam dirinya yang dia pendam. Saat Rara sudah cantik dan sukses secara karir, kita baru menyadari bahwa ternyata selama ini dia membenci penampilan fisiknya yang lama, tapi diam saja. Karena itu rasa insecurenya justru baru terlihat saat ia terlihat tidak ingin kembali ke dirinya yang lama dan memaksa orang-orang yang selama ini menerima dia apa adanya juga menerima perubahannya.
Hampir semua orang dalam film ini punya rasa insecure. Bahkan kita juga bisa melihat untuk Rara, sebenarnya darimana sumber rasa insecurenya itu. Dan kita juga bisa melihat alasan di balik sang sumber berlaku seperti itu. Satu-satunya yang tidak ada rasa insecurenya kayanya Reza Rahardian. Iya, dia punya hutang 40 juta, tapi itu nggak lantas membuat dia mengecilkan value dirinya sendiri. Bahkan dia masih punya tenaga untuk menyemangati Rara yang insecure untuk menerima dirinya apa adanya. Ini nih yang nggak relatable buat saya, apalagi sambil dengerin OSTnya yang Pelukku Untuk Pelikmu. Iya Rara mah bagus ada Dika yang selalu setia memeluk dia saat keadaan sedang pelik. Lah saya? Oke kayanya ini saat untuk mempraktekkan ajaran Ci Jenny Jusuf untuk memeluk diri sendiri.
Dari segi akting, harus saya akui akting Reza Rahardian memang juara. Nggak salah kalau wajah dia hampir selalu ada di layar lebar. Saat ini saja selain Imperfect, kita bisa melihat Reza Rahardian di Habibie Ainun 3. Dan sebentar lagi, di Layla Majnun. Sebenarnya saya bukan penggemar Reza Rahardian. Saya termasuk jajaran netizen yang sering kali nyinyir, 'Ngapa sih Reza Rahardian mulu di mana-mana?' Hingga saya melihat saat Reza Rahardian datang di talk show dengan Sarah Sechan, setelah itu, walau tidak langsung menjadi penggemarnya, harus saya akui kalau Reza Rahardian memang sangat mampu berakting jadi apa saja. Part paling saya sukai dan terngiang-ngiang adalah part-part Reza Rahardian dan Ibunya. Aktingnya natural banget parah! Benar-benar seperti ibu dan anak. Saking wow-nya akting Reza Rahardian, akting Jessica Mila di sini kebanting. Aktingnya bukan menganggu cringey gitu, ya bagus aja. Tapi terkesan biasa banget semacam sekedar akting kalau disandingkan dengan Reza Rahardian. Ya bukan bermaksud membandingkan juga, tapi mereka kan sering banget satu frame, otomatis jadi kebanting. Bahkan aktingnya Shareefa Danish aja menurut saya masih lebih natural daripada Jessica Mila. Tapi kalau kata teman saya, ya wajar sih, background Reza Rahardian dan Jessica Mila kan beda. Jessica Mila jebolan sinetron, Reza Rahardian ya emang aktor watak.
Secara keseluruhan saya puas dengan film ini. Saya merasa nggak sia-sia mengeluarkan uang lima puluh ribu (ya sebenarnya bukan uang saya juga LOL) demi menonton Imperfect. Ada satu adegan yang sangat membekas di otak saya. Saat Lulu menangis setelah membaca komenan netizen yang berkata wajahnya bulat (Siniin netizennya coba, bule cakep amat gini dikata bulat, gue apaan? Kentang?). Rara datang menghiburnya dan berkata, "Ngapain kamu pikirin mereka? Mereka aja nggak mikirin omongan mereka sendiri." Wow saya ngejleb. Sesuai dengan resolusi 2020 saya yaitu kurangi nyinyir, adegan itu seperti menyadarkan saya bahwa kita bisa aja dengan mudahnya ngomong ke orang lain tentang fisiknya. Maksud hati yaudah omongan sambil lalu, besok juga kita mungkin udah lupa pernah ngomong kaya gitu. Tapi bisa jadi omongan itu sangat membekas hingga bertahun-tahun dan menjadi cikal bakal insecure yang dirasakan orang itu.
Hampir semua orang dalam film ini punya rasa insecure. Bahkan kita juga bisa melihat untuk Rara, sebenarnya darimana sumber rasa insecurenya itu. Dan kita juga bisa melihat alasan di balik sang sumber berlaku seperti itu. Satu-satunya yang tidak ada rasa insecurenya kayanya Reza Rahardian. Iya, dia punya hutang 40 juta, tapi itu nggak lantas membuat dia mengecilkan value dirinya sendiri. Bahkan dia masih punya tenaga untuk menyemangati Rara yang insecure untuk menerima dirinya apa adanya. Ini nih yang nggak relatable buat saya, apalagi sambil dengerin OSTnya yang Pelukku Untuk Pelikmu. Iya Rara mah bagus ada Dika yang selalu setia memeluk dia saat keadaan sedang pelik. Lah saya? Oke kayanya ini saat untuk mempraktekkan ajaran Ci Jenny Jusuf untuk memeluk diri sendiri.
Dari segi akting, harus saya akui akting Reza Rahardian memang juara. Nggak salah kalau wajah dia hampir selalu ada di layar lebar. Saat ini saja selain Imperfect, kita bisa melihat Reza Rahardian di Habibie Ainun 3. Dan sebentar lagi, di Layla Majnun. Sebenarnya saya bukan penggemar Reza Rahardian. Saya termasuk jajaran netizen yang sering kali nyinyir, 'Ngapa sih Reza Rahardian mulu di mana-mana?' Hingga saya melihat saat Reza Rahardian datang di talk show dengan Sarah Sechan, setelah itu, walau tidak langsung menjadi penggemarnya, harus saya akui kalau Reza Rahardian memang sangat mampu berakting jadi apa saja. Part paling saya sukai dan terngiang-ngiang adalah part-part Reza Rahardian dan Ibunya. Aktingnya natural banget parah! Benar-benar seperti ibu dan anak. Saking wow-nya akting Reza Rahardian, akting Jessica Mila di sini kebanting. Aktingnya bukan menganggu cringey gitu, ya bagus aja. Tapi terkesan biasa banget semacam sekedar akting kalau disandingkan dengan Reza Rahardian. Ya bukan bermaksud membandingkan juga, tapi mereka kan sering banget satu frame, otomatis jadi kebanting. Bahkan aktingnya Shareefa Danish aja menurut saya masih lebih natural daripada Jessica Mila. Tapi kalau kata teman saya, ya wajar sih, background Reza Rahardian dan Jessica Mila kan beda. Jessica Mila jebolan sinetron, Reza Rahardian ya emang aktor watak.
Secara keseluruhan saya puas dengan film ini. Saya merasa nggak sia-sia mengeluarkan uang lima puluh ribu (ya sebenarnya bukan uang saya juga LOL) demi menonton Imperfect. Ada satu adegan yang sangat membekas di otak saya. Saat Lulu menangis setelah membaca komenan netizen yang berkata wajahnya bulat (Siniin netizennya coba, bule cakep amat gini dikata bulat, gue apaan? Kentang?). Rara datang menghiburnya dan berkata, "Ngapain kamu pikirin mereka? Mereka aja nggak mikirin omongan mereka sendiri." Wow saya ngejleb. Sesuai dengan resolusi 2020 saya yaitu kurangi nyinyir, adegan itu seperti menyadarkan saya bahwa kita bisa aja dengan mudahnya ngomong ke orang lain tentang fisiknya. Maksud hati yaudah omongan sambil lalu, besok juga kita mungkin udah lupa pernah ngomong kaya gitu. Tapi bisa jadi omongan itu sangat membekas hingga bertahun-tahun dan menjadi cikal bakal insecure yang dirasakan orang itu.



Dan akhirnya aku berani baca postingan ini setelah nonton.wkwk
BalasHapusKacau ya, bentukan reza rahardian gada insecurenya gitu. Giling
Aku kalau punya utang 40 juta udalah insekyur hingga menangis dan tidak bisa tidur, tidak enak makan. Boro boro mikirin pacar lagi insecure wkwkwk
Hapus